Kamis, 16 Februari 2012

UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR MENGAJAR BAHASA SUNDA

UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR MENGAJAR BAHASA SUNDA SISWA KELAS X MA PTK 45

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu siswa dan sarana pengajaran serta mengedalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan persyaratan mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar.
Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha pengorganisasian lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajar yang menimbulkan proses belajar (Uzer Usman, 1988:6).
Dari kutipan di atas mengandung makna bahwa gurulah yang mengatur mengawasi dan mengelola kelas agar tercapainya proses belajar mengajar yang berarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Syarifudin Nurdin bahwa guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran (Syarifudin Nurdin, 2002:1).
Di samping itu pula guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuannya (Uzer Usman, 1998:10).
Dari beberapa keterangan di atas telah menunjukan betapa pentingnya suatu pengelolaan kelas yang baik agar tercapainya proses belajar mengajar yang akhirnya berdampak baik terhadap pencapaian prestasi belajar mengajar siswa atau anak didik.
Upaya mengatasi kesulitan belajar sangat diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam belajar. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengenal sedini mungkin jenis kesulitan belajar dan mencari sumber penyebab utama dan penyerta yang menimbulkan kesulitan belajar (Ahmadi dan Widodo S, 2001 : 91).
Dari hasil pengamatan evaluasi belajar siswa di MA Putri PUI Talaga didapatkan bahwa prestasi belajar siswa pada pembelajaran Bahasa Sunda sebesar 75% di bawah standar ketuntasan 80% yang menunjukkan rendahnya prestasi belajar mereka. Hal ini membuktikan bahwa efektivitas belajar salah satunya berpengaruh terhadap prestasi belajar.

1 Gunung Karikil - Sajak Sayudi


Masalah Pengajaran Bahasa Sunda di Sekolah

Oleh Yayat Sudaryat
Staf Pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah (Sunda) FPBS UPI
Pengajaran bahasa Sunda di sekolah adalah termasuk cara yang efektif dalam memelihara, membina, dan mengembangkan bahasa, sastera, dan sosial budaya Sunda. Penghilangan pengajaran bahasa Sunda di sekolah akan menimbulkan kerugian.
Dalam pelaksanaan pengajaran bahasa Sunda sekarang ditemukan adanya masalah, antara lain, (1) kurangnya guru, (2) kurangnya minat dan sikap pelajar, (3) ketidakberhasilan.
Pengajaran bahasa Sunda di sekolah berfungsi penting dalam kehidupan sosial budaya Sunda karena proses belajar mengajar, yang mencakup (4) isi kurikulum dan bahan ajar, dan (5) lingkungan pengajaran.
Tulisan di atas merupakan abstrak dari makalah yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda I di Bandung pada tanggal 22-25 Agustus 2001. Edisi lengkapnya dapat ditemukan pada buku Prosiding KIBS I (Jilid I dan II).

Pengajaran Bahasa Sunda Tak Pernah Berhenti

ASIA AFRIKA, (GM).-
Pengajaran bahasa Sunda tidak pernah terhenti setelah sistem pendidikan Barat diperkenalkan di kalangan masyarakat Sunda. Sejarah pengajaran bahasa Sunda beserta perkembangannya buku pelajaran bahasa Sunda ini membuktikan perhatian besar atau nyaah (rasa sayang) orang Sunda terhadap bahasa mereka sendiri,.
“Hal itu menjadi lebis jelas kalau kita membandingkannya dengan bahasa daerah yang lain, misalnya bahasa Bali, Madura, Batak, yang buku pelajarannya masing-masing pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka seratus tahun yang lalu,” ungkap Mikihiro Moriyama seorang Professor of Indonesian Studies Departement of Asian Studies Faculty of Foreign Studies Nanzan University Jepang pada sKongres Internasional Budaya Sunda (KIBS) ke-2 di Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika Bandung, Rabu (21/12).
Mikihiro yang membawakan makalah berjudul Usaha Pembinaan Identitas Budaya Sunda dalam Perkembangan Buku Pelajaran Bahasa Sunda. Menurutnya, buku pelajaran bahasa Sunda sudah  diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda, persisnya oleh Landsdrukerij pada paruh abad ke-19.
“Perkembangan buku pelajaran bahasa Sunda ternyata menarik minat Balai Pustaka untuk menerbitkan buku pelajaran bahasa Sunda, tahun 1930an tiga jenis buku pelajaran yang diterbitkan secara berulang, seperti Panjeongsi Basa (7jilid, terbit pertama kali tahun 1933), Ganda Sari (lima terbitan), dan Roesdi  djeung Misnem (4 jilid),’” terangnya. (B.81)

Konferensi International Budaya Sunda

Konferensi International Budaya Sunda
Pengajaran Bahasa Sunda Mulai Berubah
Kamis, 22 Desember 2011 | 11:38 WIB
A A A
DR MIKIHIRO MORIYAMA
DOKUMENTASI
DR MIKIHIRO MORIYAMA –
BUDAYA  memainkan peranan penting untuk mempersatukan masyarakat dalam bahasa bersama (shared language), peninggalan budaya, sistem pendidikan atau nilai bersama (shared value). Dengan demikian, budaya memainkan peranan politik di dalam negara-bangsa dan identitas budaya sekaligus ikut memainkan peranan penting pada setiap masyarakat.

Demikian diungkapkan Dr Mikihiro Moriyama, pemakalah dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) II di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung, Rabu (20/12).

Menurut Kang Miki, sapaan akrab Mikihiro, sudah lama orang Sunda membina identitas budaya, baik dengan sadar maupun tidak sadar. Orang Sunda sudah mempertahankan identitas budaya dari zaman ke zaman. Perubahan zaman menyertai perubahan kebijakan politik yang mempengaruhi kebijakan pendidikan yang memberi dampak besar pada masyarakat orang Sunda, khususnya pada pendidikan anak-anak.

"Dan perubahan ini jelas kelihatan dalam penyusunan buku pelajaran dari zaman Hindia Belanda sampai pasca reformasi ini," ujar Kang Miki yang fasih berbahasa Sunda itu.

Ia juga mengatakan, buku pelajaran bahasa Sunda terus berkembang sampai masa kini. Pengajaran bahasa Sunda tidak pernah terhenti sejak sistem pendidikan Barat dikenalkan kepada kalangan masyarakat Sunda. Sejarah pengajaran bahasa Sunda beserta perkembangan buku pelajaran Bahasa Sunda membuktikan perhatian dari orang Sunda terhadap budaya dan bahasa mereka sendiri.

"Hal itu menjadi lebih jelas kalau kita membandingkannya dengan bahasa daerah yang lain, misalnya bahasa Bali, bahasa Madura, bahasa Batak, yang buku pelajarannya masing-masing pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka pada masa Hindia Belanda," terangnya.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung adanya perubahan dalam isi buku pelajaran bahasa Sunda. Buku pelajaran sebelumnya biasanya merupakan semacam kumpulan cerita dan dongeng. Dan buku pelajaran bahasa Sunda yang baru mulai mengajar tata bahasa mengikuti ilmu linguistik modern.

"Namun sebenarnya yang perlu diperhatikan dan masih dipertanyakan karena zaman terus berubah, sudahkah dicantumkan pada buku-buku pelajaran bahasa Sunda nilai-nilai atau warisan yang akan ditanamkan. Peruntukannya? Ini untuk melihat nilai dan pesan apa yang ingin diwariskan kepada generas penerus," katanya ditemui seusai menyampaikan makalahnya. (tif)