Kamis, 16 Februari 2012

Konferensi International Budaya Sunda

Konferensi International Budaya Sunda
Pengajaran Bahasa Sunda Mulai Berubah
Kamis, 22 Desember 2011 | 11:38 WIB
A A A
DR MIKIHIRO MORIYAMA
DOKUMENTASI
DR MIKIHIRO MORIYAMA –
BUDAYA  memainkan peranan penting untuk mempersatukan masyarakat dalam bahasa bersama (shared language), peninggalan budaya, sistem pendidikan atau nilai bersama (shared value). Dengan demikian, budaya memainkan peranan politik di dalam negara-bangsa dan identitas budaya sekaligus ikut memainkan peranan penting pada setiap masyarakat.

Demikian diungkapkan Dr Mikihiro Moriyama, pemakalah dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) II di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung, Rabu (20/12).

Menurut Kang Miki, sapaan akrab Mikihiro, sudah lama orang Sunda membina identitas budaya, baik dengan sadar maupun tidak sadar. Orang Sunda sudah mempertahankan identitas budaya dari zaman ke zaman. Perubahan zaman menyertai perubahan kebijakan politik yang mempengaruhi kebijakan pendidikan yang memberi dampak besar pada masyarakat orang Sunda, khususnya pada pendidikan anak-anak.

"Dan perubahan ini jelas kelihatan dalam penyusunan buku pelajaran dari zaman Hindia Belanda sampai pasca reformasi ini," ujar Kang Miki yang fasih berbahasa Sunda itu.

Ia juga mengatakan, buku pelajaran bahasa Sunda terus berkembang sampai masa kini. Pengajaran bahasa Sunda tidak pernah terhenti sejak sistem pendidikan Barat dikenalkan kepada kalangan masyarakat Sunda. Sejarah pengajaran bahasa Sunda beserta perkembangan buku pelajaran Bahasa Sunda membuktikan perhatian dari orang Sunda terhadap budaya dan bahasa mereka sendiri.

"Hal itu menjadi lebih jelas kalau kita membandingkannya dengan bahasa daerah yang lain, misalnya bahasa Bali, bahasa Madura, bahasa Batak, yang buku pelajarannya masing-masing pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka pada masa Hindia Belanda," terangnya.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung adanya perubahan dalam isi buku pelajaran bahasa Sunda. Buku pelajaran sebelumnya biasanya merupakan semacam kumpulan cerita dan dongeng. Dan buku pelajaran bahasa Sunda yang baru mulai mengajar tata bahasa mengikuti ilmu linguistik modern.

"Namun sebenarnya yang perlu diperhatikan dan masih dipertanyakan karena zaman terus berubah, sudahkah dicantumkan pada buku-buku pelajaran bahasa Sunda nilai-nilai atau warisan yang akan ditanamkan. Peruntukannya? Ini untuk melihat nilai dan pesan apa yang ingin diwariskan kepada generas penerus," katanya ditemui seusai menyampaikan makalahnya. (tif)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar